hukum rokok dalam islam

Hukum Rokok Dalam Islam: Haram, Makruh atau Halal? Ini Penjelasananya

Di negara kita Indonesia, rokok telah menjadi pemasukan anggaran terbesar dibanding dengan sektor lainnya. Menurut data, cukai rokok mampu menyumbang pemasukan sebesar 80 triliun per tahunnya. Angka yang cukup fantastis bukan?

Fakta ini cukup mencengangkan mengingat rokok merupakan salah satu penyebab timbulnya masalah kesehatan, seperti penyakit jantung, asma, paru-paru dan lain-lain. Tapi di lain sisi, rokok menjadi sumber penghasilan dan pendapatan serta mampu menciptakan banyak lapangan kerja.

Kita tentu merasa aneh jika melihat tulisan pada bungkus rokok” MEROKOK DAPAT MENIMBULKAN SERANGAN KANKER, SERANAGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN”. Tapi pada kenyataannya tulisan ini hanya sebagai hiasan belaka. Realitanya pengguna rokok tidap tahun makin meningkat.

Kenyataan ini tentu tidak akan terjadi jika semua orang Indonesia yang 90%-nya muslim memahami dan mengaplikasikan ayat-ayat dan sunnah-sunnah yang mengharamkan rokok

Di dalam artikel akan dibahas bagaimana hukumnya merokok di dalam Islam. Sebagian masyarakat dan ulama menganggap rokok itu hukumnya mubah, sedangkan ulama yang lain berpendapat rokok itu haram.

Orang yang menggangap rokok itu tidak haram

Banyak orang bahkan ada ulama yang menganggap bahwa rokok itu tidak haram. Ulama atau orang yang berpendapat demikian didasarkan pada firman Alloh SWT:

ُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dia-lah Alloh, yang telah menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” (QS.Albaqarah: 29)

Mereka berpendapat sesuai ayat tersebut bahwa segala sesuatu yang ada di bumi merupakan ciptaan Alloh untuk hambanya.

Namun dalil ini tidak kuat, mengingat semua ciptaan-Nya hukumnya halal jika tidak terdapat unsur-unsur yang dapat merusak tubuh. Sedangkan kita semua tahu bahwa bahan baku rokok, yakni tembakau mengandung nikotin yang semua ahli kesehatan sepakat bisa merusak kesehatan dan bisa membunuh pemakainya secara perlahan.

Alloh berfirman dalam surat An-Nissa:29:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”.

Ada juga yang berpendapat rokok itu makruh, dengan alasan orang yang merokok mengeluarkan aroma yang kurang sedap. Hukum ini disamakan dengan orang yang mengkonsumsi bawang putih yang menimbulkan bau tidak sedap.

مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ
“Barang siapa yang memakan bawang merah, bawang putih (mentah) dan karats, maka janganlah dia menghampiri masjid kami, karena para malaikat terganggu dengan hal yang mengganggu manusia (yaitu: bau tidak sedap)”. (HR. Muslim no. 564)

Namun pendapat ini mudah sekali untuk dipatahkan, karena rokok tidak sebatas mengeluarkan bau tidak sedap, lebih dari itu merokok dapat menimbulkan berbagai macam penyakit seperti jantung dan paru-paru.

Alloh berfirman:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan”. (QS. Al Baqarah: 195).

Rokok itu haram

Syeikh Muhammad bin Shalih Al Utsmani pernah ditanya apa hukum merokok menurut syariat? Maka berikut jawabannya.

Merokok hukumnya haram didasarkan atas ayat Al Quran dan As-sunnah serta logika atau i’tibar yang benar.

Firman Alloh dalam surat Al Baqarah/2:195

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan”

Yang artinya kita manusia tidak boleh melakukan perbuatan yang bisa menyebakan kebinasaan. Sedangkan kita tahu bahwa rokok dapat membuat tubuh kita teracuni dan secara perlahan membinasakan kita yaitu kematian.

Dan dari As-sunnah adalah Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyia-nyiakan harta kita. Arti menyia-nyiakan adalah menggunakan harta pada hal yang tidak bermanfaat.

Menggunakan harta kita untuk membeli rokok merupakan hal yang tidak bermanfaat bahkan bisa menimbulkan kemudharatan.

Dalil yang lain, Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

Tidak boleh (menimbulkan) bahaya dan juga tidak oleh membahayakan (orang lain)” [1]

Merokok selain membahayakan diri sendiri juga sangat membahayakan orang-orang disekitarnya. Jelas ini sejalan dengan hadis di atas.

Sedangakan dalil dari logika yang benar, yang mengharamkan merokok adalah dengan melakukan tersebut (merokok), orang tersebut mencampakan dirinya sendiri pada hal yang berbahaya, rasa cemas dan keletihan jiwa.

Jika orang tersebut berakal dan berfikir, pastilah tidak mau melakukan perbuatan yang sia-sia tersebut. Kita tentu prihatin atas kondisi perokok jika tidak merokok, rasa sesak di dada, gelisah dan lain-lain.

*****

Ada sebagian yang berdalih: ” Sesungguhnya kami tidak menemukan nash, baik dalam Kitabullah maupun Sunnah tentang haramnya rokok itu sendir”

Jika demikian, maka jawaban atas pernyataan tersebut adalah:

  • Satu jenis yang dalil-dalilnya sifatnya umum seperti Adh-Dhawabith dan kaidah-kaidah yang mana mencakup rincian-rincian yang banyak sampai Hari Kiamat.

Misalnya dalam ayat Al Quran dan hadis yang saya tulis diatas, yang menunjukan keharaman merokok sekalipun tidak diarahkan secara langsung kepadanya.

  • Satu jenis yang dalil-dalilnya memang ditujukan pada sesuatu itu sendiri secara langsung.

Contohnya dalam firman Alloh Ta’ala:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah” [Al Maidah/5: 3]

Dan satu lagi di dalam surat Al Maidah/5:90

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ

“Artinya: Hai orang-orang yang beriman, sesunguhnya (meminum) khamr, berjudi (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu”

Kesimpulannya, baik nash tersebut masuk ke dalam jenis pertama atau kedua, maka ia sifatnya keniscayaan untuk semua hamba Alloh.

Demikian penjelasan tentang hukum rokok dalam islam sesuai dengan pendapat ulama yang didasarkan pada Al Quran dan As-sunnah.

Kita memohon kepada Alloh Ta’ala agar terhindar dari perbuatan sia-sia, salah satunya adalah merokok. Aamiin.

Beri Tanggapan