Valentin adalah perayaan umat Nasrani

Sejarah Valentine Day Menurut Islam Serta Mengenali Mudaratnya

Sejarah Valentine Day Menurut Islam
https://pixabay.com

Banyak diantara kita past sudah mengenal Valentin (bahasa inggris: Valentine’s Day). Seperti yang sudah kita tahu, hari Valentin cukup populer dengan nama lain hari kasih sayang.

Hari itu dirayakan sebagai suatu perwujudan kasih sayang seseorang. Sebagai perwujudan bukan hanyak untuk sepasang muda-muda yang sedang jatuh cinta, akan tetapi secara luas kasih sayang kepada sesama, pasangan suami-istri, kepada anak, orang tua dna lainnya.

Namun sudah tahukan kamu fakta dan sejarah di balik hari Valentin ini? Dan apakah boleh umar muslim juga merayakannya? Berikut kami ulas hari Valentin yang sebenarnya.

Sejarah Valentine Day Menurut Islam

Sebenarnya banyak versi yang berkenaan dengan asAl usul hari valentin. Namun secara umum sejarah itu menjelasakan tentang peristiwa sejarah yang dimuali ketika dahulu bangsa Romawi memperingati suatu hari besar pada tanggal 15 februari, hari tersebut bernama Lupercalia.

Perayaan Lupercalia ini adlh rangkaian upacara penyucian dewa di masa Romawi kuno pada tanggal 13-18 februari. Dua hari pertama dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata.

Pada dua hari tersebut para pemuda mengundi nama nama gadis yang sudah tertulis dalam undian di dalam sebuah kotak, kemudian tiap pemuda mengambil nama secara acak dan nama gadis yang didapat akan menjadi psangannya untuk bersenang-senang selama setahun, sebgai objek hiburan.

Di tanggal 15 februari, mereka meminta perlindungan kepada dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini kaum mud melecut orang dengan kulit binatang dan para wanita berebut untuk dilecut karena anggapan membuat mereka menjadi lebih subur.

Kemudian setelah datanganya agama Katolik sebgai agama resmi negara Roma, penguasa Romawi dan tokoh agama Katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa kristiani, antara lain mengganti nama nama gadis dengan nama nama Paus dan Pastor.

Diantara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Lalu supaya lebih dekat lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini sebagai Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Book Encyclopedia 1998).

Kaitan Hari Kasih Sayang dengan Valentine

Sejarah Valentine Day Menurut Islam
https://pixabay.com/

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintah untuk menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua ialah menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tangguh dan kuat dalam medan peperangan dibanding orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, akan tetapi St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (The World Book Encyclopedia, 1998).

Versi lainnya menceritakan bahwa sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (mati sebagai pahlawan karena memperjuangkan kepercayaan), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis “Dari Valentinusmu”. (Sumber pembahasan di atas: http://id.wikipedia.org/ dan lain-lain)

Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan:

Hari Valentine (Valentine’s Day) berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan.

Upacara Romawi Kuno tersebut akhirnya dirubah menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius I. Jadi acara valentine menjadi ritual agama Katolik yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya St. Valentine.

Hari valentin juga sebagai hari penghormatan kepada tokoh nasrani yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta.

Sudah jelas bahwa hari Valentin adalah perayaan umat Nasrani dan tentunya orang Islam tidak boleh merayakannya. Sadarkah kita, pada perkembangannya di zaman modern saat ini, perayaan valentin disamarkan dengan dihiasi nama “hari kasih sayang”, secara umumnya.

Sudah jelas bukan, bahw sesungguhnya hari valentin adalah peryaan umar Nasrani, untuk itu sebagai umat Islam kita tidak boleh merayakanya. Janganlah sampai ironis, sebagian orang mungkin sudah mengetahui kenyataan sejarah di atas.

Namun sebagian orang juga seolah-olah mereka menutup mata dan menyatakan boleh-boleh saja merayakan hari valentin yang cikal bakal sebenarnya adalah ritual paganisme.

Sudah semestinya orang muslim berpikir, tidak sepantasnya mereka merayakan hari tersebut setelah jelas-jelas nyata bahwa ritual valentine adalah ritual non muslim bahkan bermula dari ritual paganisme.

Mudarat Seputar Hari Valentine

Sejarah Valentine Day Menurut Islam
http://kutazo.net

Selanjutnya kita akan melihat berbagai mudarat yang ada di hari Valentine.

1. Mudarat Pertama: Merayakan Valentine Berarti Meniru-niru Orang Kafir

Sudah begitu jelas larangan di dalam Islam untuk meniru-niru orang kafir (baca: tasyabbuh). Larangan ini terdapat dalam berbagai ayat, juga ada pada beberapa sabda Rasulullah SAW dan hal ini juga merupakan kesepakatan para ulama (baca: ijma’).

Inilah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim (Ta’liq: Dr. Nashir bin ‘Abdil Karim Al ‘Aql, terbitan Wizarotusy Syu’un Al Islamiyah).

Rasulullah SAW memerintahkan agar kita menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani. Beliau SAW bersabda,

إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لاَ يَصْبُغُونَ ، فَخَالِفُوهُمْ

Sesungguhnya orang Yahudi dan Nashrani tidak mau merubah uban, maka selisihlah mereka.” (HR. Bukhari no. 3462 dan Muslim no. 2103)

Hadits ini menunjukkan kepada kita agar menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani secara umum dan di antara bentuk menyelisihi mereka adalah dalam masalah uban. (Iqtidho’, 1/185)

Dalam hadits lain, Rasulullah menjelaskan secara umum supaya kita tidak meniru-niru orang kafir. Beliau SAW bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [hal. 1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus.

Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaiman dalam Irwa’ul Gholil no. 1269). Telah jelas di muka bahwa hari Valentin adalah perayaan paganisme, lalu diadopsi menjadi ritual agama Nasrani. Merayakannya berarti telah meniru-niru mereka.

2. Mudarat Kedua: Menghadiri Perayaan Orang Kafir Bukan Ciri Orang Beriman

Allah Ta’ala telah mencirikan sifat orang-orang beriman. Mereka adalah orang-orang yang tidak menghadiri ritual atau perayaan orang-orang musyrik dan ini berarti tidak boleh umat Islam merayakan perayaan agama lain seperti halnya valentin. Semoga ayat berikut bisa menjadi renungan untuk kita semua.
Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon [25]: 72)

Ibnul Jauziy dalam Zaadul Masir mengatakan bahwa ada 8 pendapat mengenai makna kalimat “tidak menyaksikan perbuatan zur”, pendapat yang ada ini tidaklah saling bertentangan karena pendapat-pendapat tersebut hanya menyampaikan macam-macam perbuatan zur.

Di antara pendapat yang ada mengatakan bahwa “tidak menyaksikan perbuatan zur” adalah tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Inilah yang dikatakan oleh Ar Robi’ bin Anas.

Menurut Ibnul Jauziy, ayat di atas adalah pujian untuk orang yang tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Jika tidak menghadiri perayaan tersebut adalah suatu hal yang terpuji, maka ini berarti melakukan perayaan tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela dan termasuk ‘aib (Lihat Iqtidho’, 1/483).

Jadi, merayakan hari valentin bukanlah ciri orang beriman karena jelas-jelas hari tersebut bukanlah hari raya umat Islam.

3. Mudarat Ketiga: Mengagungkan Sang Pejuang Cinta Akan Berkumpul Bersamanya di Hari Kiamat Nanti

Jika orang mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan keutamaan berikut ini.
Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi SAW,

مَتَّى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ

Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?

Beliau SAW berkata,

مَا أَعْدَدْتَ لَهَا

Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?

Orang tersebut menjawab,

مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلاَةٍ وَلاَ صَوْمٍ وَلاَ صَدَقَةٍ ، وَلَكِنِّى أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”

Beliau SAW berkata,

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain di Shohih Bukhari, Anas mengatakan,

فَمَا فَرِحْنَا بِشَىْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِىِّ-صلى الله عليه وسلم-« أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ » . قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ-صلى الله عليه وسلم-وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi SAW: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”

Anas pun mengatakan,

فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ-صلى الله عليه وسلم-وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

Kalau begitu aku mencintai Nabi SAW, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”

Bandingkan, bila mana jika yang dicintai dan diagungkan adalah seorang tokoh Nasrani yang dianggap sebagai pembela dan pejuang cinta di saat raja melarang menikahkan para pemuda.

Valentine lah sebagai pahlawan dan pejuang ketika itu. Lihatlah sabda Nabi SAW di atas: “Kalau begitu engkau bersama dengan orang yang engkau cintai“. Jika Anda seorang muslim, manakah yang Anda pilih, dikumpulkan bersama orang-orang shaleh ataukah bersama tokoh Nasrani yang jelas-jelas kafir?

Siapa yang mau dikumpulkan di hari kiamat bersama dengan orang-orang kafir? Semoga menjadi bahan renungan siapa saja yang masih menggagumi Valentine!

4. Mudarat Keempat: Ucapan Selamat Berakibat Terjerumus Dalam Kesyirikan dan Maksiat

“Valentine” sebenarnya berasal dari bahasa Latin yang berarti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. (Dari berbagai sumber)

Oleh karena itu disadari atau tidak, jika kita meminta orang menjadi “To be my valentine (Jadilah valentineku)”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala.

Kami telah sampaikan di awal bahwa hari valentine jelas-jelas adalah perayaan nasrani, bahkan semula adalah ritual paganisme. Oleh karenanya, mengucapkan selamat hari kasih sayang atau ucapan selamat dalam hari raya orang kafir lainnya adalah sesuatu yang diharamkan.

Berdasarkan kesepakatan para ulama (baca: ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah (1/441, Asy Syamilah).

Beliau rahimahullah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal atau selamat hari valentine, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin.

Contohnya ialah memberikan ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, “Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu”, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka atau semacamnya.

Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah.

Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.”

Karena makna sebenarnya di balik ungkapan selamat tersebut ialah menyekutukan Allah SWT.

5. Mudarat Kelima: Hari Kasih Sayang Menjadi Hari Semangat Berzina

Sungguh ironis mengenai hari kasih sayang yang satu ini. Di masa sekarang ini mengalami pergeseran dengan menjadikannya sebagai perayaan kemaksiaat. Ketika masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat.

Kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang. Na’udzu billah min dzalik.

Padahal mendekati zina saja haram, apalagi melakukannya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’ [17]: 32)

Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras daripada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang.

6. Mudarat Keenam: Meniru Perbuatan Setan

Menjelang hari valentin lah berbagai macam coklat, ragam bunga, hadiah, kado dan souvenir laku keras. Coba fikirkan berapa banyak duit yang dihambur-hamburkan ketika itu, padahal sebenarnya harta tersebut masih dapat dibelanjakan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat atau malah bisa disedekahkan pada orang yang membutuhkan agar berbuah pahala.

Akan tetapi, hawa nafsu berkehendak lain. Perbuatan setan lebih senang untuk diikuti daripada hal lainnya. Itulah pemborosan yang dilakukan ketika itu mungkin bisa bermilyar-milyar rupiah dihabiskan ketika itu oleh seluruh penduduk Indonesia, hanya demi merayakan hari valentin. Tidakkah mereka memperhatikan firman Allah,

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27). Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.” (Lihat Tafsir Al Quran Al ‘Azhim)

Penutup

Sejarah Hari Valentine Menurut Islam – Sebagai umat islam, kita hari tahu dan mengerti tentang bagaimana sebenarnya hari valentin itu. Lalu bagaimana mengambil sikap yang tepat akan perkara ini, yaitu kita tidak boleh mengucapkan selamat hari valentine, juga tidak boleh membantu menyemarakkan acara ini dengan jual beli, mengirim kartu, mencetak, dan mensponsori acara tersebut karena ini termasuk tolong menolong dalam dosa dan kemaksiatan.

Renungkanlah, Setiap orang haruslah takut daripada kemurkaan Allah Ta’ala. Semoga tulisan ini dapat tersebar pada kaum muslimin yang lainnya yang belum mengetahui. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada kita semua.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Beri Tanggapan