Memaknai Ikhlas yang Hakiki Menurut Islam

Ikhlas Menurut Islam
https://pixabay.com

IKHLAS MENURUT ISLAM – Ikhlas, jika dalam lisan adalah kata yang begitu mudah untuk terucapkan, namun sulit untuk dilaksanakan. Karena ikhlas itu hakikatnya adalah urusan hati. Ikhlas adalah suatu bentuk kerelaan hati yang didalamnya tidak adanya penyakit hati, seperti riya’, iri, dengki, dendam dan berbagai persifatan tercela seperti takabur, sombong dan munafik.

Ikhlas sangat erat hubungannya dengan suatu amal perbuatan dan amal ibadah. Ikhlas yang sebenarnya adalah ikhlas karena Allah SWT. saja. Sebesar apapun suatu amal tampak dimata manusia begitu pula sebanyak apapun amalan seseorang jika tidak adanya keikhlasan di dalam hatinya, maka amalan itu tidak ada artinya dihadapan Allah SWT.

Begitupun meskipun amalan sekecil apapun jika ditunaikan denga ikhlas hanya semata-mata mengharap keridhaan dan cinta Allah, sungguh amat mulia amalan kecil tersebut. Ilmu ikhlas dalam islam menekankan untuk senantiasa memurnikan dari polusi, membebaskan dari segala yang merusak niat dan tujuan dalam melaksanakan suatu amalan.

Ungkapan “semata-mata karena Allah SWT.” didalamnya terkandung tiga dimensi penghambaan, yaitu niatnya benar karena Allah (shalih Al niyyat), sesuai tata caranya (shalih Al kaifiyyat), dan tujuannya untuk mencari ridha Allah SWT. (shalih Al ghayat), bukan karena suatu pujian, sanjungan, apresiasi, dan balasan dari selain Allah SWT.

Beribadah sesuai konsep ilmu ikhlas merupakan dambaan setiap Mukmin yang shaleh, karena hal tersebut akan mengantarkannya untuk benar-benar hanya menyembah atau beribadah kepada Allah SWT, tidak menyekutukan atau menuhankan selain-Nya. “Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun” (QS An-Nisa’: 36). Sesuai dengan firmanNya. “Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al An’am: 162).

Belajar Makna Ilmu Ikhlas Menurut Islam

Ikhlas Dalam Islam
https://pixabay.com

Bila ikhlas telah menjadi karakter hati dalam beramal ibadah, niscaya keberagamaan kita menjadi lurus, benar, dan istiqamah (konsisten), karena keikhlasan adalah kunci diterima tidaknya suatu amal ibadah oleh Allah SWT.

Menurut Imam Al Ghazali, peringkat ikhlas itu ada tiga:

  1. Ikhlas awam yakni ikhlas yang dalam beribadah kepada Allah karena dilandasi perasaan takut kepada siksa-Nya dan masih mengharapkan pahala dari-Nya.
  2. Ikhlas khawas, ialah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dimotivasi oleh harapan agar menjadi hamba yang lebih dekat dengan-Nya dan dengan kedekatannya kelak ia mendapatkan “sesuatu” dari-Nya.
  3. Ikhlas khawas Al khawas adalah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena atas kesadaran yang tulus dan keinsyafan yang mendalam bahwa segala sesuatu yang ada adalah milik Allah dan hanya Dia-lah Tuhan yang Maha Segala-galanya.

Pengertian Ikhlas Menurut Para Ulama

Para ulama menjelaskan ikhlas dengan beberapa pengertian, namun makna akan hakikatnya sama. Berikut perkataan ulama-ulama tersebut.[1]

  • Abul Qosim Al Qusyairi mengatakan, “Ikhlas ialah menjadikan niat hanya untuk Allah SWT. dalam melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan perlakuan baik dan pujian dari makhluk atau yang dilakukan bukanlah di luar dari yang mendekatkan diri pada Allah.”
  • Abul Qosim juga mengatakan, “Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia.” Jika kita sedang melakukan suatu amalan maka hendaklah kita tidak bercita-cita ingin mendapatkan pujian makhluk. Cukuplah Allah saja yang memuji amalan kebajikan kita. Dan seharusnya yang dicari adalah ridha Allah, bukan komentar dan pujian manusia.
  • Hudzaifah Al Mar’asiy mengatakan, “Ikhlas adalah kesamaan perbuatan seorang hamba antara zhohir (lahiriyah) dan batin.” Berkebalikan dengan riya’. Riya’ adalah amalan zhohir (yang tampak) lebih baik dari amalan batin yang tidak ditampakkan. Sedangkan ikhlas, minimalnya adalah sama antara lahiriyah dan batin.

Dzun Nuun menyebutkan tiga tanda ikhlas:

  1. Tetap merasa sama antara pujian dan celaan orang lain.
  2. Melupakan amalan kebajikan yang dulu pernah diperbuat.
  3. Mengharap balasan dari amalan di akhirat (dan bukan di dunia).

Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’. Beramal karena manusia termasuk kesyirikan. Sedangkan ikhlas adalah engkau terselamatkan dari dua hal tadi.”

Ada empat definisi dari ikhlas yang bisa kita simpulkan dari perkataan ulama di atas.

  1. Meniatkan suatu amalan hanya untuk Allah.
  2. Tidak mengharap-harap pujian manusia dalam beramal.
  3. Kesamaan antara sesuatu yang tampak dan yang tersembunyi.
  4. Mengharap balasan dari amalannya di akhirat.

Nantikan pembahasan selanjutnya mengenai tanda-tanda ikhlas. Semoga Allah memudahkan dalam setiap urusan.

Perintah untuk Ikhlas

Hati yang Ikhlas
http://muslim.or.id

Setiap amalan sangat tergantung kepada niat. Rasulullah SAW bersabda,

إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh apa yang dia niatkan.”[2] Dan niat itu sangat tergantung dengan keikhlasan pada Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)

Allah pun mengetahui segala sesuatu yang ada dalam isi hati semua hambaNya. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ

“Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui” (QS. Ali Imran: 29)

Dalam ayat lainnya, Allah memperingatkan dari bahaya riya’ yang merupakan lawan dari ikhlas-dalam firman-Nya,

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

Jika kamu mempersekutukan (Rabbmu), niscaya akan hapuslah amalmu.” (QS. Az Zumar: 65)

Nabi SAW bersabda,

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (maksudnya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya.”[3]

An Nawawi mengatakan, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa.”[4]

Dalam hadits lainnya, Nabi SAW bersabda,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa yang menutut ilmu yang sebenarnya harus ditujukan hanya untuk mengharap wajah Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan materi duniawi, maka ia tidak akan pernah mencium bau surga pada hari kiamat nanti.“[5]

Semoga Bisa Menjadi Hamba yang Ikhlas

Allah akan senantiasa menolong kaum muslimin karena keikhlasan sebagian orang dari umat ini. Nabi SAW bersabda,

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ

Allah akan menolong umat ini karena sebab orang miskin, karena do’a orang miskin tersebut, karena shalat mereka dan karena keikhlasan mereka dalam beramal.”[6]

Ikhlas adalah kunci diterimanya suatu amalan, di samping amalan tersebut harus sesuai tuntunan Nabi SAW. Tanpa keikhlasan dari hati, amalan jadi sia-sia belaka.

Ibnul Qayyim dalam Al Fawa-id memberikan nasehat yang sangat indah tentang ikhlas, “Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi SAW bagaikan seorang musafir yang membawa bekal berisi pasir. Bekal tersebut hanya memberatkan, namun tidak membawa manfaat apa-apa.”

Semoga bermanfaat, Wallahu a’lam bishawab

[1] Kami ambil perkataan-perkataan ulama tersebut dari kitab At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, An Nawawi, hal. 50-51, Maktabah Ibnu ‘Abbas, cetakan pertama, tahun 1426 H.[2] HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907, dari ‘Umar bin Khattab.
[3] HR. Muslim no. 2985, dari Abu Hurairah.
[4] Syarh Muslim, An Nawawi, 9/370, Mawqi’ Al Islam.
[5] HR. Abu Daud no. 3644 dan Ibnu Majah no. 252, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[6] HR. An Nasa-i no. 3178. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

Beri Tanggapan