tujuan hidup manusia

Inilah Tujuan Hidup Kita Sebagai Manusia Menurut Islam

TUJUAN HIDUP MANUSIA –   Assalamuallaikum Warrahmatullahi Wabarakatu. Tujuan hidup kita sebagai manusia di dalam pandangan kita sebagai ummat Islam. Sebenarnya apa atau bagaimana?

Seperti yang kita ketahui selama ini bahwa masih banyak saudara kita sesame muslim yang masih mempertanyakan haknya tengtang tujuan mereka diciptakan di dunia ini oleh Allah s.w.t. Dan bahkan ada yang menanyakan tentang kewajiban yang telah diberikan kepada kita sejak kita lahir. Yaitu tentang “Untuk apa kita beribadah?”

Tujuan Hidup Manusia Adalah Untuk Beribadah

Sebenarnya, tujuan hidup manusia diciptakan ke dunia ini hanya satu, yaitu untuk beribadah kepada Allah S.W.T. Hal tersebut seperti yang dikutip dari Al Quran Surat Adz Dzariyat ayat 56 yang berbunyi:

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

 

“Dan Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

Dari surat Al Quran tersebut dapat diambil makna bahwa di dalam tujuan Allah menciptakan kita. Allah tidak melepaskan begitu saja setiap makhluknya. Di dalam menjalani kehidupan ini, kita tidak hanya hidup untuk makan, minum, tidur, melepas lelah, dan mencari uang untuk bekal melanjutkan hidup. Namun dibalik itu semua kita mempunyai kewajiban untuk beribadah dan taat kepada Allah.

Beribadah, itulah tujuan hidup kita sebagai manusia diciptakan. Namun dengan adanya kita beribadah kepada Allah, bukan berarti Allah membutuhkan kita sebagai makhluknya. Bahkan sebaliknya, kitalah yang membutuhkan Allah.

Allah tidaklah membutuhkan apa-apa yang ada pada kita. Walaupun kita diperintahkan untuk beribadah kepada Allah, itu bukan berarti Allah yang membutuhkan kita. Hal tersebut bisa kita lihat pada lanjutan ayat Al Quran tadi. Surat Adz Dzariyat ayat 56 yang berbunyi:
مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58)

 

Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari makhluk dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan pada-Ku. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki, Yang Mempunyai Kekuatan lagi sangat Kokoh.”

Itulah alasan kenapa kita diciptakan dan mempunyai kewajiban untuk beribadah kepada-Nya. Karena kita membutuhkan Allah didalam kehidupan kita sebagai makhluk-Nya.

Salah satu ulama Robbani, Ibnul Qoyyim rahimahullah telah berusaha menafsirkan makna yang terkandung di dalam surat Adz Dzariyat ayat 56 tersebut dan dia mengatakan bahwa:

“”Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia tidaklah menciptakan jin dan manusia karena butuh pada mereka, bukan untuk mendapatkan keuntungan dari makhluk tersebut. Akan tetapi, Allah Ta’ala Allah menciptakan mereka justru dalam rangka berderma dan berbuat baik pada mereka, yaitu supaya mereka beribadah kepada Allah, lalu mereka pun nantinya akan mendapatkan keuntungan. Semua keuntungan pun akan kembali kepada mereka. Hal ini sama halnya dengan perkataan seseorang, “Jika engkau berbuat baik, maka semua kebaikan tersebut akan kembali padamu”. Jadi, barangsiapa melakukan amalan sholeh, maka itu akan kembali untuk dirinya sendiri. ” (Diambil dari kitab Thoriqul Hijrotain, hal. 222)

Maka dari itu jelaslah jawaban dari pertanyaan “Untuk apa kita diciptakan?” dimana tujuan kita diciptakan sebagai manusia adalah untuk beribadah hanya kepada Allah.

Dalam ibadah ini, kita akan lebih mengenal, mencintai, serta tunduk terhadap ketentuan Allah. Dan untuk mewujudkan itu semua, kita memerlukan keimanan di hati kita. Dan dengan keimanan itulah Insya Allah kita akan selamat di dalam menjalani kehidupan yang sementara ini dan selamat pula dalam menjalani kehidupan di akhirat kelak.

Kenapa Tidak Semua Makhluk Menjadi Beribadah Kepada Allah

Mungkin kalian telah melihat bahwa walau kita sebagai manusia diciptakan kepada Allah. Namun disekitar kita ada banyak orang juga yang tidak beribadah kepada Allah. Hal ini sebenarnya berkaitan dengan irodah atau kehendak yang Allah miliki. Sedangkan irodah sendiri dibagi menjadi dua macam.

Irodah yang pertama adalah irodah diniyyah. Kehendak ini adalah semua hal yang telah diperintahkan oleh Allah yang bentuknya berupa amalan-amalan sholeh. Tetapi seperti yang kita ketahui, orang-orang kafir dan fajr (ahli maksiat) malah melanggar perintah tersebut.

Hal yang seperti ini digolongkan sebagai iroda diniyyah, dan amalan-amalan yang ada padanya dicintai juga diridhoi. Irodah yang seperti inilah yang bisa terealisir dan juga sebaliknya.

Irodah yang kedua ialah irodah kauniyyah, semua yang ada disini adalah apa yang telah Allah kehendaki dan takdirkan, tetapi Allah tidak memerintahkannya. Misalnya saja adalah perkara-perkara yang dihukumi mubah atau segala bentuk maksiat. Semua perkara yang ada disini tidak Allah perintahkan, namun Allah juga tidak meridloinya. Karena Allah tidak pernah memerintahkan kita sebagai makhluknya untuk berbuat jelek, juga tidak meridloi segala bentuk kekafiran. Walaupun Allah bisa menetapkan, menakdirkan, dan menghendaki hal itu terjadi. Tetapi dalam hal tersebut, setiap apa yang Allah kehendaki pasti terlaksana dan juga sebaliknya.

Dan jika kita lihat kembali di dalam surat Adz Dzariyat ayat 56:

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Dari ayat tersebut dapat dilihat bahwa tujuan Allah menciptakan manusia termasuk dalam kategori irodah diniyyah. Bisa dikatakan di dalam tujuan Allah dalam penciptaan di sini tidaklah semua makhluk dapat mewujudkannya.

Maka dari itu, jika kita melihat orang-orang sekitar kita ada orang yang beriman dan orang yang tidak beriman. Karena tujuan di dalam penciptaan di sini yaitu beribadah kepada Allah ialah perkara yang sangat dicintai dan diridhoi Allah, namun tidak semua makhluk dapat menjalankannya. (Lihat pembahasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa, 8/189)

Beri Tanggapan